STRATEGI DAN KEBERLANJUTAN INDUSTRI SEMEN DI INDONESIA: STUDI KASUS PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA TBK
Kata Kunci:
Strategi Bisnis, Keberlanjutan, Industri Semen, Indocement Tunggal PrakarsaAbstrak
Tantangan industri semen nasional menghadapi saat ini adalah kelebihan kapasitas produksi (oversupply), stagnasi permintaan domestik, persaingan yang semakin ketat, serta tuntutan global terhadap dekarbonisasi dan implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Penelitian menggunakan jenis pendekatan kualitatif deskriptif dengan iplementasi analisis strategi melalui Matriks EFE, IFE,, Competitive Profile Matrix (CPM), Matriks SWOT, BCG, SPACE, dan Grand Strategy berdasarkan data Laporan Tahunan 2024–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indocement memiliki posisi internal dan eksternal yang kuat dengan skor EFE sebesar 3,43 dan IFE sebesar 3,00. Posisi Indocement menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan peluang eksternal seperti pertumbuhan proyek infrastruktur nasional, peningkatan permintaan semen curah, transisi energi hijau, serta pengembangan bahan bakar alternatif dan produk semen rendah karbon. Di sisi internal, kekuatan utama perusahaan meliputi peningkatan pangsa pasar, pertumbuhan volume produksi dan penjualan, jaringan distribusi yang luas, penguasaan bahan baku, serta dukungan teknologi dan ESG dari Heidelberg Materials Group. Berdasarkan Matriks IE, perusahaan berada pada Kuadran I (grow and build), sedangkan Matriks BCG menempatkan Indocement pada posisi cash cow dengan pangsa pasar tinggi namun pertumbuhan industri relatif rendah. Hasil Matriks SPACE menunjukkan posisi agresif, sementara Matriks Grand Strategy menempatkan perusahaan pada Kuadran IV dengan strategi utama berupa diversifikasi terkait, pengembangan produk, integrasi vertikal, dan penguatan bisnis hilir. Penelitian menyimpulkan bahwa strategi keberlanjutan Indocement perlu difokuskan pada efisiensi operasional, pengembangan produk rendah karbon, optimalisasi penggunaan alternative fuels and alternative raw materials (AFAM), penguatan bisnis ready mix concrete (RMC), serta implementasi ESG yang konsisten guna mempertahankan daya saing dan profitabilitas jangka panjang di tengah dinamika industri semen nasional.




