PERAN ORANGTUA DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN SEKSUAL DANGENDER DALAM PERSPEKTIF PARENTING ISLAM
Kata Kunci:
Pendidikan Seksual Islam, Peran Orang Tua, Gender, Haya, Parenting Islami.Abstrak
Pendidikan seksual dan gender dalam perspektif Islam memiliki peran fundamental dalam membentuk kesadaran moral, spiritual, dan sosial anak sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua Muslim dalam menanamkan pemahaman pendidikan seksual dan gender yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam, serta relevansinya terhadap tantangan moral dan digital di era modern. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis konten, penelitian ini menelaah berbagai literatur klasik dan kontemporer termasuk karya Al-Ghazali dan Abdullah Nashih Ulwan untuk menggali konsep pendidikan anak dalam Islam yang menekankan prinsip haya’ (malu), penjagaan aurat, dan etika mu’asyarah (pergaulan). Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan seksual dalam Islam bukan sekadar pengetahuan biologis, tetapi proses pembentukan karakter yang mencakup pengenalan aurat dan nilai haya’ sebagai dasar moral, pengajaran adab interaksi sebagai pedoman sosial, serta pemahaman perbedaan gender dalam kerangka kesetaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, orang tua berperan sebagai tiga pilar utama: (1) mu’allim (pendidik) yang menerapkan komunikasi terbuka dan integrasi nilai Al-Qur’an serta hadis; (2) uswah hasanah (teladan) yang menanamkan norma dan pengendalian emosi melalui perilaku nyata; dan (3) ra’i (pengawas dan pelindung) yang menjaga anak melalui literasi media, penyaringan konten digital, serta pendidikan body safety berbasis nilai syariah. Penelitian ini juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan seksual dan gender berbasis Islam bergantung pada sinergi antara rumah, sekolah, dan lingkungan masjid. Sinergi tersebut memastikan bahwa pendidikan nilai berlangsung secara bertahap (tadrij), berkesinambungan (istimrār), dan kontekstual terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, pendidikan Islam yang komprehensif dapat menjadi benteng moral sekaligus panduan praktis bagi orang tua dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi yang berpotensi memengaruhi identitas dan akhlak anak Muslim




