KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI 66 BATU-RAPE KABUPATEN ENREKANG
Kata Kunci:
Kepemimpinan Pembelajaran, Kepala Sekolah.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah di SD Negeri 66 Batu Rape serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas kepala sekolah, dan 2 orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menjalankan peran kepemimpinan pembelajaran dengan cukup efektif. Hal ini terlihat dari Pengembangan visi dan misi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga sekolah sehingga menjadi pedoman bersama dalam mengarahkan seluruh kegiatan pendidikan. Selanjutnya, Pengembangan program pembelajaran diwujudkan melalui koordinasi perencanaan, pelaksanaan kurikulum, serta pendampingan guru agar proses pembelajaran berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Iklim pembelajaran yang akademis juga terus dibangun melalui penciptaan suasana belajar yang kondusif, disiplin, dan mendorong budaya belajar yang positif bagi peserta didik. Selain itu, mengembangkan lingkungan yang mendukung penerapan penilaian dengan menyediakan sarana prasarana, sistem administrasi, serta komunikasi yang efektif guna menjamin pelaksanaan penilaian yang objektif dan berkelanjutan. Faktor pendukung dalam kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah meliputi terbangunnya kolaborasi yang kuat antarwarga sekolah, komitmen kepala sekolah dalam menggerakkan guru, serta budaya kerja positif yang sudah terbentuk. Dukungan ini membuat berbagai program pembelajaran dapat berjalan lebih terarah dan berkesinambungan. Sementara itu, faktor penghambat yang memengaruhi efektivitas kepemimpinan pembelajaran, mencakup keterbatasan fasilitas sekolah, kurangnya kesiapan teknologi baik bagi guru maupun siswa, minimnya pemanfaatan perangkat pembelajaran digital, serta keterbatasan anggaran untuk mendukung pengembangan sarana pembelajaran




