HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN KEMAMPUAN COPING PADA ORANG TUA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SLB NEGERI JEMBER
Kata Kunci:
Anak Berkebutuhan Khusus, Kemampuan Coping, Orang Tua, Self-EfficacyAbstrak
Latar Belakang: Anak berkebutuhan khusus membutuhkan pengasuhan, pendampingan, dan perhatian yang lebih intensif dari orang tua. Kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan psikologis pada orang tua apabila orang tua tidak memiliki keyakinan diri dan kemampuan adaptasi yang baik. Self-efficacy merupakan keyakinan orang tua terhadap kemampuannya dalam menghadapi tuntutan pengasuhan. Kemampuan coping merupakan usaha orang tua dalam mengelola tekanan, menyesuaikan diri, dan menghadapi permasalahan selama proses pengasuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan self-efficacy dengan kemampuan coping pada orang tua anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Jember. Metode: Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 150 orang tua atau wali murid, dengan sampel 109 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner self-efficacy dan kuesioner kemampuan coping, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki self-efficacy tinggi sebanyak 82 responden (75,2%) dan kemampuan coping tinggi sebanyak 75 responden (68,8%). Analisis: Hasil uji Spearman’s rho menunjukkan p-value 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,806, yang berarti terdapat hubungan signifikan sangat kuat dan positif antara self-efficacy dengan kemampuan coping. Diskusi: Semakin tinggi self-efficacy orang tua, semakin tinggi kemampuan coping dalam menghadapi tuntutan pengasuhan secara adaptif. Dukungan sekolah melalui edukasi dan pertemuan rutin orang tua dapat mendukung peningkatan self-efficacy dan coping.




