ANALISIS DAYA SAING DAN RISIKO EKSPOR FURNITURE KAYU INDONESIA DI PASAR ASIA: STUDI KASUS PERDAGANGAN INDONESIA DENGAN JEPANG
Kata Kunci:
Daya Saing Ekspor, Mebel Kayu, Pasar Jepang, Risiko Perdagangan, IJEPA, Revealed Comparative AdvantageAbstrak
Industri mebel kayu Indonesia menempati posisi strategis dalam arsitektur ekspor nonmigas nasional, ditopang oleh ketersediaan kayu tropis bernilai tinggi dan warisan keterampilan pengrajin yang mendalam. Studi ini dirancang untuk mengevaluasi profil daya saing ekspor furniture kayu Indonesia di pasar Jepang sekaligus memetakan risiko-risiko struktural yang dapat mereduksi kinerja ekspor bilateral. Penelitian memanfaatkan indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) formulasi Balassa (1965) yang dikombinasikan dengan matriks Export Product Dynamics (EPD), serta analisis risiko berbasis kerangka PESTLE yang mengacu pada klasifikasi Daniels, Radebaugh, dan Sullivan (2015). Sumber data mencakup publikasi BPS, Kemendag, Kemenperin, ASMINDO, dan HIMKI rentang 2020 - 2025. Indeks RCA furniture kayu Indonesia secara konsisten melampaui nilai ambang 1,0 sepanjang periode kajian, yang mengindikasikan keunggulan komparatif yang mapan. Pada semester pertama 2025, realisasi ekspor furniture berbahan kayu tercatat sebesar USD 730,82 juta merepresentasikan 66,5 persen dari keseluruhan ekspor industri furniture nasional. Jepang menyerap sekitar 6,04 persen porsi ekspor furniture Indonesia sepanjang Januari hingga November 2024, menjadikannya mitra dagang kedua terpenting setelah Amerika Serikat. Meski keunggulan komparatif terbukti solid, sejumlah faktor risiko khususnya tekanan tarif AS, kompetisi dari Tiongkok dan Vietnam, serta regulasi ECO Mark Jepang menuntut respons kebijakan yang proaktif. Optimalisasi kerangka IJEPA amandemen 2024 dan percepatan adopsi SVLK oleh pelaku IKM menjadi dua pilar utama strategi penguatan ekspor yang direkomendasikan.




