KONSEP IBTILĀ' PERSPEKTIF MUHAMMAD MUTAWALLI AL SYA'RAWI DALAM KITAB KHAWĀṬIR AL-SYA'RĀWĪ ḤAWLA AL QUR'ĀN AL-KARĪM
Kata Kunci:
Ibtilā', Penderitaan, Al-Sya'rawi, Khawāṭir, Pendekatan Humanistik, Tafsir TematikAbstrak
Penderitaan ibtilā' merupakan realitas eksistensial yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun peradaban modern tampaknya semakin tidak mampu menyediakan kerangka kerja yang memadai untuk memaknainya, sebagaimana tercermin dalam tingginya prevalensi gangguan jiwa secara global. Karya-karya tafsir klasik umumnya membahas ibtilā' dalam kerangka normatif-preskriptif fiqh al-shabr, sehingga dimensi ontologis dan fenomenologisnya kurang tereksplorasi. Artikel ini merekonstruksi konstruksi ontologis dan esensi penderitaan menurut Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi dalam Khawāṭir al-Sya'rāwī Ḥawla al-Qur'ān al-Karīm melalui pendekatan teosentris-humanistik. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menggunakan pendekatan tematik mawḍū'ī yang dipadukan dengan perspektif humanistik serta analisis isi terhadap tafsir al-Sya'rawi mengenai ayat-ayat tentang ibtilā' dan istilah-istilah serumpunnya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa al-Sya'rawi mengonstruksi ibtilā' sebagai: (1) kondisi struktural yang netral yang nilainya ditentukan oleh respons manusia; (2) fenomena bertingkat dengan hilangnya nyawa sebagai batas tertingginya; (3) pengalaman yang senantiasa disertai oleh kelembutan Ilahi (al-luṭf); (4) peristiwa yang berakar pada sejarah namun memiliki makna universal; dan (5) sunnatullah yang tidak berkaitan dengan hukuman atas dosa. Esensinya termanifestasi dalam sembilan bentuk fenomenologis—termasuk ibtilā' bi al-syarr, ibtilā' bi al-khayr, fitnah sebagai penyucian, dan ibtilā' sosial—yang berfungsi sebagai bukti keimanan sejati, penghapus dosa, peningkatan derajat, tamkīn, serta pembentukan sosok teladan qudwah. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus utamanya untuk merekonstruksi diskursus lisan al-Sya'rawi yang tersebar mengenai ibtilā' menjadi sebuah kerangka kerja yang koheren, penggunaan pendekatan humanistik secara konsisten, serta dialog kritis dengan psikologi eksistensial kontemporer (Frankl dan Camus). Temuan ini menawarkan model dakwah dan pendidikan Islam yang menyentuh dimensi psikologis penderitaan tanpa kehilangan landasan teosentrisnya.




