EPISTEMOLOGI IMAMAH DALAM TAFSIR AL-QUMMI DAN TAFSIR SUNNI: KAJIAN HERMENEUTIK ATAS QS. AN-NISA’: 59
Kata Kunci:
Epistemologi Imamah, Tafsir Al-Qummi, Tafsir Ibnu Katsir, QS. An-Nisa’: 59, HermeneutikaAbstrak
QS. an-Nisa’ ayat 59 merupakan salah satu ayat kunci dalam diskursus kepemimpinan dan otoritas keagamaan dalam Islam yang dipahami secara berbeda dalam tradisi Syiah Imamiyah dan Sunni. Perbedaan tersebut terutama tampak dalam penafsiran frasa uli al-amr dan konstruksi sumber otoritas keagamaan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis epistemologi Imamah dalam Tafsir al-Qummi serta membandingkannya dengan penafsiran QS. an-Nisa’: 59 dalam Tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik dialogis dan analisis historis untuk menelusuri dasar epistemologis dan konteks penafsiran kedua mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir al-Qummi menempatkan Imamah sebagai otoritas epistemologis yang berkelanjutan melalui para Imam Ahlul Bait, di mana riwayat para Imam berfungsi sebagai sumber normatif utama pengetahuan agama. Sebaliknya, Tafsir Ibnu Katsir memandang uli al-amr sebagai otoritas fungsional dalam ranah agama dan politik, dengan epistemologi yang menekankan riwayat sahabat, konteks historis, dan mekanisme ijtihad. Studi ini menyimpulkan bahwa perbedaan penafsiran QS. an Nisa’: 59 berakar pada perbedaan epistemologi tafsir dan konstruksi otoritas keagamaan yang dibentuk oleh konteks historis masing-masing tradisi




