ALINASI DAN KETERASINGAN
Kata Kunci:
Alinasi, Keterasingan, Eksistensialisme, Filsafat Islam, Humanisme SpiritualAbstrak
Fenomena alinasi dan keterasingan merupakan salah satu krisis eksistensial paling mendalam yang dihadapi manusia modern. Dalam konteks kehidupan yang diwarnai oleh rasionalitas instrumental, industrialisasi, dan dominasi teknologi, manusia sering kehilangan orientasi makna, hubungan autentik dengan sesama, dan kesadaran spiritual terhadap Tuhan. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis konsep alinasi dan keterasingan dalam perspektif filsafat Barat dan Islam dengan pendekatan filosofis komparatif. Dalam tradisi filsafat Barat, konsep alinasi berakar pada pemikiran Hegel, Marx, Heidegger, dan Fromm. Hegel memahami alinasi sebagai proses dialektis roh menuju kesadaran diri absolut; Marx menafsirkan alinasi sebagai keterputusan manusia dari hasil kerjanya, sesama, dan hakikat kemanusiaannya akibat sistem kapitalisme; Heidegger memandang keterasingan sebagai kondisi Dasein yang terlempar dan lupa akan makna keberadaannya; sedangkan Fromm menyoroti keterasingan psikologis akibat kehidupan yang materialistis dan kehilangan cinta. Sementara itu, dalam perspektif Islam, erasingan dilihat sebagai akibat dari jauhnya manusia dari sumber transendensi, yaitu Allah Swt. Pemikiran Al-Ghazali tentang ma‘rifatullah, Ibn Arabi tentang al-insan al-kamil, dan Iqbal tentang khudi (ego kreatif), memberikan kerangka spiritual untuk mengatasi keterasingan melalui rekonstruksi kesadaran diri dan hubungan dengan Tuhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa alinasi tidak hanya bersifat sosial dan psikologis, tetapi juga ontologis dan spiritual. Jalan keluar dari keterasingan menuntut pemulihan kesadaran eksistensial dan spiritual manusia melalui integrasi antara rasionalitas, etika, dan transendensi. Dengan demikian, tulisan ini menegaskan pentingnya sintesis antara filsafat Barat dan Islam untuk membangun paradigma humanisme spiritual yang membebaskan manusia dari keterasingan modern




