Makna Belajar Sejarah Bagi Siswa Gen Z Studi Fenomenologi Di Sma Negeri 1 Wanadadi
Kata Kunci:
Makna Belajar, Pembelajaran Sejarah, Generasi Z, Fenomenologi, Konstruksi SosialAbstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya stigma negatif yang memandang pembelajaran sejarah sebatas aktivitas hafalan kaku yang tidak relevan, di tengah tantangan disrupsi digital dan risiko erosi identitas nasional pada Generasi Z. Arus digitalisasi membawa dampak ganda berupa banjir informasi yang cair sekaligus kerentanan sosiokultural bagi remaja iGeneration yang sarat akan distraksi siber. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengalaman subjektif siswa Generasi Z di kelas, memahami pandangan mereka mengenai urgensi belajar sejarah, serta mengungkap cara mereka memaknai nilai-nilai peristiwa sejarah masa lampau sebagai pedoman bersikap di era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomenologi. Subjek utama penelitian adalah 8 siswa kelas XI C SMA Negeri 1 Wanadadi yang dipilih secara purposive sampling, dengan guru sejarah sebagai subjek pendukung. Data primer dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan refleksi tertulis berupa tulisan harian siswa. Validitas data dijaga menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode serta member checking. Teknik analisis data menerapkan prosedur fenomenologi transendental yang dimodifikasi dengan elemen hermeneutik melalui tahap reduksi, horizonalisasi, clustering of meanings, hingga sintesis esensi makna (eidos). Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pengalaman subjektif siswa bersifat ambivalen; penggunaan metode konvensional (ceramah dan mencatat) memicu dispersi kesadaran berupa kejenuhan dan kantuk, sedangkan penerapan metode inovatif-digital (PAIKEM, games, storytelling) memicu antusiasme dan imajinasi historis yang mendalam. Kedua, siswa memandang belajar sejarah sangat penting di era modern sebagai perangkat kognitif-kritis dan keterampilan bertahan hidup (survival skill) untuk menyaring informasi siber, mendeteksi hoaks, serta membentengi identitas nasional dari penetrasi budaya asing. Ketiga, proses pemaknaan nilai sejarah berjalan secara reflektif dan aplikatif melalui dialektika konstruksi sosial (objektivasi-internalisasi eksternalisasi). Nilai-nilai heroisme dan pengorbanan masa lalu diserap menjadi rasa syukur dan tanggung jawab moral yang dimanifestasikan dalam bentuk tindakan nyata, seperti peningkatan motivasi belajar, toleransi, menghargai waktu, dan ketahanan terhadap tren digital negatif.




