NEGOSIASI IDENTITAS JEMAAT NON BATAK DALAM PERSEKUTUAN DAN PELAYANAN DI GEREJA HKBP JATISAMPURNA

Penulis

  • Ati Malem Hutauruk Universitas Sahid Jakarta Penulis

Kata Kunci:

Negosiasi Identitas, Jemaat Gereja, Pelayanan, Gereja HKBP

Abstrak

Gereja HKBP, yang merupakan bagian dari komunitas Batak, memiliki tradisi dan budaya yang kental dengan identitas Batak dalam setiap aspek ibadah dan pelayanan. Namun, di tengah perkembangan zaman dan pertumbuhan gereja yang semakin multikultural, hadirnya jemaat non-Batak yang berasal dari berbagai suku dan latar belakang budaya menimbulkan tantangan tersendiri. Negosiasi identitas menjadi penting untuk memahami bagaimana jemaat non-Batak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang didominasi oleh budaya Batak tanpa kehilangan identitas aslinya. Proses ini mempengaruhi interaksi, partisipasi, dan kontribusi jemaat non-Batak dalam kehidupan gereja, baik dalam konteks persekutuan maupun pelayanan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk mengkaji bagaimana proses negosiasi identitas ini terjadi dalam konteks gereja HKBP Jatisampurna, serta dampaknya terhadap hubungan sosial dan kerjasama antar jemaat yang memiliki perbedaan budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif, fokus pada negosiasi identitas jemaat Non-Batak dalam persekutuan dan pelayanan di Gereja HKBP Jatisampurna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses negosiasi identitas jemaat Non- Batak dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan agama. Di gereja yang mayoritas budaya Batak, jemaat Non-Batak menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan norma budaya dominan, seperti bahasa, adat, dan ritual. Meskipun ada hambatan komunikasi, mereka berusaha mempertahankan identitas budaya sambil beradaptasi dengan kebiasaan gereja. Proses ini melibatkan adaptasi budaya, penyesuaian doktrin, dan dialog antara jemaat Batak dan Non-Batak. Upaya jemaat Non-Batak untuk belajar bahasa Batak, memahami tradisi gereja, dan berpartisipasi dalam kegiatan gereja menciptakan ruang inklusif. Gereja berperan penting dalam mendukung negosiasi identitas yang lebih harmonis, dengan peran pendeta dan pengurus gereja yang memastikan jemaat dihargai tanpa memandang latar belakang budaya. Keberagaman budaya di gereja HKBP dihargai sebagai kekuatan yang memperkaya persekutuan gereja

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-01