PREVALENSI GANGGUAN PENDENGARAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN OAE, TIMPANOMETRI, DAN BERA PADA ANAK DENGAN CEREBRAL PALSY DI KOTA MEDAN
Kata Kunci:
Cerebral Palsy, Gangguan Pendengaran, OAE, Timpanometri, BERAAbstrak
Cerebral Palsy (CP) adalah gangguan neurologis non-progresif, sering dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan dan komunikasi. Gangguan pendengaran dapat memperburuk cerebral palsy. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi dan pola gangguan pendengaran pada anak-anak dengan CP dan mengevaluasi hubungannya dengan faktor risiko dan tipe CP. Penelitian potong lintang ini melibatkan 31 anak diagnosis CP di Medan, sesuai dengan kriteria inklusi. Data meliputi demografi CP. Pendengaran dinilai menggunakan timpanometri, Otoacoustic Emissions (OAE), dan Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA). Rata-rata usia 7,45±3,46 tahun; mayoritas usia 7-14 tahun (61,3%), laki-laki (64,5%). Timpanometri tipe A 83,9% (kanan) dan 87,1% (kiri). OAE 71% pass, 29% refer. BERA normal 71%, sedangkan 25,8% kehilangan pendengaran sensorineural (SNHL) dan 3,2% kehilangan campuran. Gangguan pendengaran, terutama tipe sensorineural, ditemukan pada sebagian anak dengan Cerebral Palsy. Hasil ini menegaskan pentingnya skrining dan evaluasi pendengaran rutin pada anak CP untuk deteksi dan intervensi dini.




