EFEK HOAKS DAN DISINFORMASI TERHADAP KEPUTUSAN PEMILIH DALAM PEMILU DI KOTA MANADO
Kata Kunci:
Hoaks, Disinformasi, Keputusan Pemilih, Literasi Digital, Komunikasi PolitikAbstrak
Pemanfaatan media sosial sebagai ruang komunikasi politik telah mengubah pola penyebaran informasi dalam proses demokrasi. Di sisi lain, perkembangan tersebut diikuti dengan meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi yang berpotensi memengaruhi perilaku politik masyarakat, terutama menjelang penyelenggaraan pemilu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hoaks dan disinformasi terhadap keputusan pemilih dalam Pemilu di Kota Manado, mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kerentanan pemilih terhadap informasi palsu, serta merumuskan strategi penguatan literasi digital sebagai upaya mitigasi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan survei kuantitatif, wawancara mendalam, analisis media sosial, serta studi dokumentasi sehingga mampu menggambarkan fenomena secara komprehensif. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menjelaskan kecenderungan perilaku responden dan analisis tematik untuk menginterpretasikan hasil wawancara serta dinamika penyebaran informasi di media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial, khususnya WhatsApp, Facebook, TikTok, dan Instagram, merupakan saluran utama penyebaran hoaks politik. Paparan informasi palsu yang berlangsung secara berulang terbukti memengaruhi persepsi, sikap emosional, serta preferensi politik sebagian pemilih. Tingkat literasi digital, tingkat pendidikan, usia, serta kepercayaan terhadap tokoh masyarakat menjadi faktor yang menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap disinformasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa karakteristik masyarakat Kota Manado yang memiliki hubungan sosial berbasis komunitas mempercepat proses penyebaran informasi, baik yang bersifat faktual maupun manipulatif. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model hubungan antara paparan hoaks, literasi digital, kepercayaan terhadap opinion leader, dan keputusan pemilih dalam konteks demokrasi lokal. Temuan tersebut memberikan implikasi akademik bagi pengembangan kajian komunikasi politik digital serta implikasi praktis bagi pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, media, dan lembaga pendidikan dalam menyusun strategi peningkatan literasi digital, mekanisme klarifikasi informasi, serta penguatan ketahanan masyarakat terhadap disinformasi politik guna mendukung penyelenggaraan pemilu yang demokratis, adil, dan berintegritas.




